Perlahan akupun tahu bahwa bentuk sudah merujuk
tatapan seakan menjadi kiasan
dan bahasa kita, menjelma menjadi sebuah prosa. . .
Ternyata gusar tak sedikitpun menyiratkan asam pada dinding-dinding merah tua selaput matamu.
Ia tak mampu bersaing dengan pancar yang kurasa makin kuat voltasenya
Perahu kertas ini semakin terhanyut, dan tersangkut pada rembetan akar-akar kasih sayang itu
Aku yakin pelabuhan yang akan menjemputku